Langit di atas kota Arasaki selalu tampak kelabu. Hujan turun hampir setiap hari, seolah-olah kota itu terperangkap dalam musim yang tak pernah berakhir. Bagi sebagian orang, hujan adalah berkah—membasahi ladang, membersihkan udara, dan membawa kesejukan. Namun bagi Hana, hujan adalah beban yang tak kunjung usai.
Di usia 17 tahun, Hana sudah kehilangan banyak hal. Ibunya meninggal karena penyakit misterius yang entah kapan bisa sembuh. Sejak saat itu, ia tinggal bersama bibinya yang dingin dan hanya memikirkan pekerjaan. Hana merasa terasing di rumahnya sendiri, dan satu-satunya tempat ia bisa merasa bebas adalah di atap sekolah, di mana ia sering menatap hujan jatuh tanpa henti. Ia selalu bertanya-tanya: Apakah hujan ini akan pernah berhenti?
Suatu hari, ketika sedang duduk di atap sekolah, memandang langit yang mendung, Hana bertemu dengan seorang pemuda misterius bernama Ren. Dia tampak biasa saja, dengan jaket tebal dan payung di tangannya, tetapi ada sesuatu yang berbeda darinya. Setiap kali Ren mendekat, hujan berhenti. Bukan hanya mereda, tapi benar-benar berhenti, seolah-olah Ren membawa cerah dalam langkahnya.
"Kenapa hujan berhenti setiap kali kau datang?" tanya Hana suatu hari, rasa penasarannya tak lagi bisa dibendung.
Ren tersenyum kecil, tetapi matanya tampak sedih. "Aku punya kemampuan yang aneh," katanya. "Aku bisa menghentikan hujan, tapi hanya untuk sementara."
Hana tertegun. Ren menceritakan bahwa ia adalah anak dari penjaga cuaca, sebuah makhluk kuno yang menjaga keseimbangan alam. Namun, karena suatu alasan, kekuatan hujan di kota Arasaki tak terkendali, dan Ren dikirim untuk menyeimbangkannya kembali. Namun, ada satu harga yang harus dibayar: setiap kali Ren menghentikan hujan, dia mengorbankan sedikit dari dirinya sendiri.
"Satu hari nanti, aku akan menghilang," kata Ren pelan. "Dan ketika itu terjadi, hujan di kota ini akan berhenti selamanya."
Hana merasa hatinya tercengkeram. Di satu sisi, ia ingin hujan ini berhenti, ingin melihat langit biru kembali. Namun di sisi lain, ia tidak ingin Ren menghilang. Ia sudah terlalu banyak kehilangan dalam hidupnya, dan Ren, meski baru ia kenal, telah menjadi cahaya di hari-harinya yang suram.
Waktu terus berlalu, dan Hana semakin dekat dengan Ren. Setiap kali mereka bersama, hujan akan mereda, dan matahari akan menembus awan, meski hanya sebentar. Namun Hana tahu, setiap kali Ren menggunakan kekuatannya, ia semakin mendekati akhir.
Suatu malam, badai besar melanda kota Arasaki. Hujan turun lebih deras dari biasanya, angin kencang merobek pepohonan, dan banjir mulai melanda jalan-jalan kota. Hana tahu, ini adalah saatnya. Ia berlari mencari Ren di tengah badai.
Ketika ia menemukannya, Ren berdiri di atas atap gedung, menatap hujan deras yang seakan tak terbendung. Wajahnya pucat, tetapi matanya tegas.
"Hana, aku harus menghentikan ini," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.
"Tapi kau akan menghilang!" teriak Hana, air mata bercampur dengan hujan yang membasahi wajahnya.
Ren tersenyum tipis. "Aku sudah memutuskan. Jika ini bisa membawa kedamaian bagi kota ini, maka biarlah."
Dengan langkah tegas, Ren mengangkat tangannya ke langit. Hujan yang deras mulai mereda, angin berhenti bertiup, dan perlahan, langit di atas kota Arasaki mulai cerah. Namun, di saat yang sama, tubuh Ren mulai memudar, seperti kabut yang terhapus oleh sinar matahari.
"Hana," katanya pelan, "terima kasih telah menemaniku."
Dan kemudian, Ren menghilang. Hujan berhenti, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, langit di atas Arasaki benar-benar cerah.
Hana berdiri di sana, sendirian di atap, tetapi kali ini, ia tidak merasa terasing. Ren mungkin telah pergi, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada cuaca yang cerah—ia meninggalkan kenangan yang akan terus hidup dalam hati Hana, seperti jejak hujan yang tertinggal di bumi yang kering.
Dan di kota itu, hujan tak pernah turun lagi.
Comments
Post a Comment