TUGAS MEMBUAT CERITA FIKSI "Ishtar dan Gerbang Bulan Kunci Kedua"

 Ishtar dan Gerbang Bulan

Kunci Kedua – Bab 1: Suara dari Langit


Sudah lima bulan sejak Ishtar kembali dari Artheos. Lima bulan sejak portal tertutup, meninggalkan Lyas di balik dunia magis yang mulai ia anggap sebagai rumah kedua. Tapi tidak ada hari berlalu tanpa bayangan petualangan itu hadir kembali—dalam mimpinya, dalam buku-buku yang ia sentuh, dalam pantulan cermin yang terasa terlalu dalam.


Ishtar duduk di loteng perpustakaan kakeknya, memandangi artefak kristal yang dulu ia bawa pulang. Warnanya kini redup, tapi kadang-kadang berdenyut pelan—seperti jantung yang tidur.


Lalu malam itu datang.


Bulan menggantung penuh di langit Aranaya, dikelilingi cincin merah tipis—pertanda gerhana langka yang hanya terjadi setiap seribu tahun. Saat bayangan mulai menelan cahaya bulan, kristal di tangan Ishtar menyala liar. Ia terbangun dari tidurnya, dan suara bergema di kepalanya.


> “Gerbang Bulan telah retak. Waktu bangkit dari tidur. Datanglah, Pewaris Cahaya.”




Sebelum sempat berpikir, cermin besar di ruang bawah kembali bergetar. Bukan hanya pusaran cahaya seperti dulu—kali ini, cerminnya pecah… dan dari retakannya, Ishtar disedot masuk ke dalam langit malam.


Ia jatuh.


Tapi bukan ke tanah.


Ia mendarat di permukaan yang terasa seperti air dan kaca bersamaan. Dunia sekitarnya gelap, penuh bintang. Di hadapannya terbentang daratan melayang, pohon-pohon berakar di langit, dan bangunan melengkung dari cahaya beku. Ini bukan Artheos yang ia kenal. Ini tempat lain—lebih tua, lebih sepi.


“Selamat datang di Sempadan Waktu,” kata suara yang dingin dan berlapis gema.


Ishtar berbalik. Seorang pria berdiri—tinggi, berjubah kelabu yang bergerak seperti asap. Matanya kosong, seperti jam pasir yang tak pernah berhenti. Tangannya memegang tongkat berujung lingkaran retak.


“Aku adalah Annum,” ucapnya, “dan kau adalah gangguan dalam perputaran abadi.”


Ishtar mencoba mundur, tapi tempat itu tak memiliki batas. “Apa yang kau inginkan dariku?”


“Bukan darimu,” kata Annum pelan. “Dari waktumu. Dunia kalian terlalu gaduh. Terlalu cepat. Aku akan mengulang semuanya—mencabut masa kini, menghapus masa depan, dan memurnikan kembali awal mula. Gerbang Bulan adalah kuncinya.”


“Kalau kau buka gerbang itu…” Ishtar menggenggam artefaknya, “kau akan menghancurkan semua yang hidup sekarang.”


Annum tersenyum tipis. “Dan apakah semua itu layak diselamatkan?”


Dalam sekejap, tempat itu memudar. Ishtar kembali terlempar ke dunia Artheos—tapi tidak seperti yang ia tinggalkan. Langitnya kelabu, udaranya berat. Segalanya tampak usang dan terdiam.


“Ishtar?” suara yang familiar memanggil dari balik reruntuhan menara.


Ia berbalik. Lyas berdiri di sana, lebih dewasa dari terakhir ia lihat. Rambutnya lebih panjang, matanya lebih dalam. Dan bekas luka membelah alisnya hingga pipi.


“Lyas…”


Ia tersenyum tipis. “Kukira kau tak akan kembali.”


Mereka berpelukan singkat. Tapi di mata Lyas, Ishtar menangkap sesuatu yang aneh—kegelisahan, atau mungkin rasa bersalah.


“Artheos... kenapa begini?”


“Waktu tak lagi berjalan normal. Annum bangkit di Sempadan Waktu dan menancapkan bayangannya ke setiap aliran jam. Dan kita... kehabisan waktu,” jawab Lyas, menatap langit.


Tiko muncul tiba-tiba dalam wujud rubah bersayap. “Ishtar! Dunia hampir runtuh, dan hanya kamu yang bisa menutup gerbang bulan sebelum Annum membukanya sepenuhnya!”


Ishtar menggenggam kristalnya erat.


“Di mana gerbang itu?”


Lyas menatap ke utara. “Di puncak Lembah Malam. Tapi... jalan ke sana hanya bisa dibuka oleh mereka yang pernah... menginginkan segalanya berakhir.”


Ishtar terdiam.


Annum tak hanya ingin menghancurkan waktu. Ia ingin merusak harapan. Dan bagian terdalam Ishtar—yang pernah merasa asing di dunia sendiri, yang pernah berharap semuanya hilang—adalah celah yang bisa ia gunakan.


Mereka bertiga menatap langit. Gerhana belum selesai. Masih ada waktu. Tapi tidak banyak.


Dan perjalanan ke gerbang bulan... baru saja dimulai.

Comments